Rabu, 02 Desember 2009

Jangan Jauhi Mereka


Di salah satu sudut kota, salah satu dari mereka ada yang meringkuk di dalam rumah, terasing dalam ketidakberdayaan mereka. Ada yang hidup diliputi dengan perasaan penuh dendam dan kebencian. Ada yang terbaring lemah menunggu maut menjemput. Bahkan ada yang bisa tertawa lebar menatap masa depan yang masih diliputi misteri kehidupan. Itulah beberapa gambaran manusia yang terkena virus Human Immunodeficiency Virusses (HIV). Virus dengan penyakit yang bernama Acquire Immune Deficiency Syndrome (AIDS) ini seolah menjadi momok dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Banyak yang menganggap penyakit ini adalah penyakit kutukan dari Tuhan karena perbuatan penderita itu sendiri. HIV AIDS merupakan penyakit yang belum ada obatnya di dunia.
HIV adalah virus yang menginfeksi sel-sel yang ada dalam tubuh manusia dan mereplikasinya (membuat copy-an yang baru dari sel-sel tersebut). Virus tersebut juga dapat merusak sel manusia yang bisa membuat seseorang sakit. Pengertian lain dari HIV yang paling mudah dipahami oleh masyarakat adalah hilangnya sistem kekebalan tubuh manusia sehingga mudah terserang penyakit. Virus HIV ini dapat masuk dalam tubuh manusia melalui darah. Seperti yang kita ketahui penularannya bisa melalui jarum suntik yang dipakai bersamaan atau melakukan seks bebas. Seeorang yang terkena virus HIV ini biasanya disebut HIV positif.
Penderita HIV AIDS atau yang biasa disebut Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) biasanya tinggal menunggu waktu kapan penyakit itu akan berakhir. Karakter orang-orang yang terkena HIV AIDS ini sangat berbeda-beda. Ada yang bisa menerima kenyataan dan tetap melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Dan ada yang memilih mengasingkan diri di rumah karena malu atau takut dengan pandangan masyarakat terhadap dirinya. Dari segi fisik, penderita HIV AIDS masihlah sama dengan manusia normal lainnya. Akan tetapi, ketika virus itu sudah mulai menggerogoti tubuhnya maka akan terlihatlah tanda-tanda orang yang terkena virus HIV ini.
Di Indonesia sendiri banyak berdiri lembaga-lembaga yang menangani permasalahan penderita HIV AIDS. Kebanyakan berbentuk lembaga sosial dan pekerjanya juga kebanyakan dari penderita itu sendiri. Pembinaan yang paling berat dilakukan bagi penderita adalah pembinaan mental. Karena tidak semua orang bisa menerima orang dengan penyakit AIDS ini. Oleh karena itu, seseorang yang terkena penyakit ini biasanya dibina mentalnya terlebih dahulu sebelum terjun ke masyarakat.
Hukum masyarakat dapat dikatakan merupakan hukum terberat yang harus diterima oleh para ODHA. Betapa tidak, omongan, cemoohan, sikap mengucilkan, biasanya datang dari masyarakat itu sendiri. Padahal tidak semua penderita AIDS ini mereka yang menggunakan obat-obatan terlarang atau mereka yang melakukan seks bebas. Orang yang terjangkit virus ini juga bisa terjadi karena kesalahan penggunaan jarum suntik. Atau yang biasa terjadi adalah hubungan perkawinan tanpa mengetahui latar belakang pasangannya masing-masing. Kasus yang paling menyedihkan adalah seorang anak yang harus terjangkit karena tertular orang tuanya.
Banyak orang-orang yang terjangkit HIV AIDS ini harus merasakan gunjingan, kucilan serta cemoohan dari masyarakat. Padahal tak semua dari mereka yang terjangkit penyakit itu karena hal-hal negatif. Penyakit ini dinilai sebagian masyarakat sebagai penyakit kutukan, penyakit yang memang belum ada obatnya. Akan tetapi, tak semestinya orang yang tidak terjangkit virus ini menjauhi para ODHA tersebut. Karena virus ini tidak tertular melalui makanan, jabatan tangan, dan kontak fisik lainnya. Hanya saja rasa cemas dan khawatir akan tertular membuat sebagian masyarakat ‘takut’ untuk berinteraksi dengan mereka.
Tak banyak orang yang menganggap penderita penyakit ini harus ditolong. Memang secara fisik dan medis belum ada obat untuk mengobati penyakit ini. Tapi setidaknya secara mental dan batin, orang-orang yang terjangkit virus ini harus dibantu. Karena tekanan batin dan mental merupakan cobaan berat yang harus dihadapi para ODHA yang mendapatkan gunjingan dan cemoohan dari masyarakat. Dengan bersikap baik dan menganggap mereka ‘ada’ setidaknya membuat keadaan mereka lebih baik. Dan yang terpenting adalah mereka dapat berpikir bahwa mereka masih bisa berguna di lingkungannya dan masyarakat luar karena mereka masih bisa beraktivitas laiknya manusia normal. Oleh sebab itu, dukungan dan bantuan secara moral dari orang-orang yang mau membantu mereka tentunya sangat mereka butuhkan, sebelum akhirnya mereka kembali pada penguasa alam. Wallahualam bis sawab!

Mental Hedonis Berujung Korupsi


Indonesia tengah dilanda permasalahan yang sangat pelik. Terutama menyangkut kasus korupsi yang tak pernah habis-habisnya terjadi di Indonesia. Di tengah kondisi alam yang tak bersahabat dengan manusia (dapat dilihat dari banyaknya bencana alam di berbagai wilayah di Indonesia), Negara tercinta ini juga tengah dilanda permasalahan yang tidak pernah ketemu ujung pangkalnya, yaitu korupsi. Seperti yang marak diberitakan di berbagai media massa, kasus yang sedang hangat belakangan ini adalah kasus perselisihan antar oknum di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan pihak kepolisian dan pemerintah.
Sungguh miris memang, karena oknum-oknum yang berselisih adalah berasal dari lembaga yang memiliki peran penting bagi Negara Indonesia ini. Dengan munculnya kasus ini, dapat dipastikan kepercayaan masyarakat kepada beberapa lembaga ini jadi berkurang. Bahkan mungkin tak ada lagi yang dapat dipercaya. Karena, setiap kasus yang berkembang memiliki bukti-bukti baru yang saling menguatkan dan menjatuhkan. Belum lagi kasus yang berbeda tapi dikaitkan-kaitkan dengan kasus lain, misalnya kasus pembunuhan Nasrudin yang dituduhkan kepada Antasari Azhar dikaitkan dengan kasus penyuapan yang menimpa Bibit dan Chandra Hamzah. Hingga ujung-ujungnya adalah pada kasus korupsi di Bank Century yang merugikan Negara.
Pemerintah membentuk tim pencari fakta yang diberi nama tim 8. Tim ini diluar dari penyidik kepolisian yang menurut Ketua Divisi Humas Polri, Nanan Sukarna – pada konferensi pers – tidak memiliki kekuatan hukum untuk memenjarakan seseorang. Akhirnya, tim 8 bekerja, tim penyidik dari pihak kepolisian juga bekerja. Hingga masyarakat kebingungan bukti dan pendapat mana yang mau dipilih, tim 8 atau penyidik kepolisian? Berita-berita serta bukti-bukti yang ditampilkan di depan publik justru membuat masyarakat akan kebingungan karena semakin banyak informasi yang dikonsumsi tapi tidak dibarengi dengan verifikasi yang jelas. Kasus-kasus yang muncul juga tumpang tindih sehingga tidak jelas siapa menuntut apa dan siapa menuntut siapa.
Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere = busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) menurut Transparency International adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka (dikutip dari website Wikipedia Indonesia). Korupsi merupakan permasalahan yang tak kunjung selesai – minimal berkurang – di Indonesia. Hal ini menurut penulis dikarenakan budaya konsumerisme yang besar di kalangan masyarakat Indonesia, terutama pejabat. Mental-mental mereka telah dijejali dengan kebiasaan menggunakan barang-barang mewah. Fasilitas yang mereka terima tak sebanding dengan apa yang bisa mereka lakukan. Misalnya, kendaraan dinas yang mereka gunakan berupa mobil Mercy yang eksklusif. Akan tetapi, mereka lupa bahwa masih banyak orang-orang tak mampu yang menggelandang di jalanan. Jangan salahkan rakyat kecil ketika mereka harus mencuri demi sesuap nasi ketika anggaran untuk pembinaan mereka lebih kecil ketimbang dengan pembelanjaan fasilitas mewah para pejabat di atas-atas sana.
Padahal, dana-dana untuk kendaraan dinas, rumah dinas, fasilitas umum, kesehatan, dan lain sebagainya yang diterima para pejabat bisa lebih ditekan dan dialihkan untuk pembangunan infrastruktur atau pendidikan di Indonesia. Toh, gaji dan tunjangan yang mereka terima sudah lebih dari cukup untuk menghidupi kebutuhannya sehari-hari. Akan tetapi, balik lagi pada permasalahan awal adalah mental-mental hedonis yang ditanamkan pada orang-orang gedongan itu. Meski tak jarang beberapa pejabat yang melakukan kegiatan sosial dengan separuh gaji yang ia terima. Dari gaya hidup yang mewah tersebut, ditambah dengan banyaknya ‘proyek’ yang mampir ke tangan pejabat membuat uang mengalir dengan mudah. Dari situlah kemungkinan besar ‘korupsi’ kecil-kecilan dilakukan.
Melihat kondisi diatas, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisir kasus korupsi yang terjadi. Misalnya, dalam pelaporan keuangan lebih bersifat transparan. Selain itu, penekanan dana untuk tunjangan, fasilitas umum, dan lain sebagainya bisa dilakukan untuk dialokasikan ke bagian lain yang lebih memerlukan, misal pendidikan dan infrastruktur. Hal ini tentunya dapat mencegah terjadinya kesenjangan sosial antara yang ‘atas’ dengan yang ‘bawah’. Semoga!

Minggu, 15 November 2009

Coretan untuknya

Dia tak datang saat kelulusan Sekolah Dasarku
Dia juga tak bisa datang saat-saat pembagian rapor di tingkat menengah pertamaku
Dia tak hadir saat aku memasuki gerbang SMA
Dia juga tak ucapkan selamat sewaktu aku menyelesaikan wajib belajarku
Ucapan selamat ulang tahun tak terdengar dari mulutnya
Dia juga tak bisa berkenalan dengan lelaki yang pernah mengisi hatiku
Tak kulihat senyumnya saat aku berlari membawa ijazah kelulusan perguruan tinggiku
Dia tak bisa hadir menjadi wali di hari pernikahanku yang sakral
Dia tak mampu menemaniku dengan vespa butut kesayangannya dimana aku pernah tertidur sambil memeluknya
Dia sudah disana, bersama penguasa alam, melihatku yang selalu merindukannya
I really miss u dad…Love you so much!

Rabu, 14 Oktober 2009

Ways to Get a Successful Life

What do you think about success? Do the rich people can be defined as a successful person? Or the poor one called an unsuccessful one? I think there’s no scale to measuring “success” in my life. Some people think if they feel happiness in their life, they are a success person. Although, they are not a wealthy person; sometimes, properties are not valuable things for some people. There are two ways to reach a successful: work hard and patiently.
To reach a successful, we need do everything in hard a way, it means we have to work hard to reach it. Student study hard because they want to pass their final exam to graduate excellently, for instance. Another example, some workers work very hard to get promotion in order to go to the higher level in a company. Every people do many things to get the best result in their life; however, they do “illegal” activity to get it. For example, they try to persuade their boss to get better promotion in their job and get more salary; even though no every people to that, just some of them. Sometimes, money can make people “blind” in their life, whereas it isn’t a main point to determine a successful. So, getting a successful life is not easy. Every thing must be hard for us to reach it.
The second way to get success is be patient to everything that we do. In my opinion, keep patient is the most important thing in our life; furthermore, it is impossible if everything that we want in this life can be reach. I will give the example, a labour who has been worked for 2 years in a company, but he still work in the same division and get same salary till now. Does he called an unsuccessful person? I think, if he has felt comfort with his job and he’s enjoyed it, he can be called a successful person because he keep patient with his job. Therefore, while we always try to be patient we can get what we really want; nonetheless, it is not as soon as that we want.
In conclusion, if we want to reach a successful in our life, we have to work hard to do that. Also, we have to always be patient when we try our best, because if we don’t do that we’ll get frustration. We just thinking about “success” in our life without thinking about the way to reach that, whether to do positive thing or to do negative thing to get the best result. Then, we can be an arrogant, impatient, and stubborn person. Benjamin Franklin said, “There are no gains without pain”. So, in which way you want to choose to get your successful life?

Sabtu, 10 Oktober 2009

The Extinction of American Bison


Nowadays, many animals become more extinct along with humans appearance; some people are considering this case related with humans behavior identically greedy for money and power. One of animals which almost extinct are American Bison in The United States. Many years ago, when amount of Bison was large, American Bison was peacefully life near humans, especially Native Americans. Bison were providing them with food, shelter, clothing, and spiritual inspiration. However, bison were begun to extinct after Europeans come to America; they slaughtered bison for clothing, sports, robe, tongue, etc. The extinction of Bison was affecting to Native American and environment.
Furthermore, Native American was living with Bison for thousand years ago, so without Bison they would be forced to leave or starve. Their relationship was very strong at that time, each of them was supply something for their life. For example, Native American plant grass as a food for Bison; likewise, Bison also provide many things for Native American like clothing and food. So, Bison was playing an important role in this life especially in Native American’s life. As a result, they really took care about Bison’s life even make a conservation place, where Bison can reproduce themselves to preserve their generations.
The other effect of Bison’s extinction is the balance of ecosystem or as known as environment. All of these things in the world need something to complete the life cycle. Wolves eat Bison, Bison eat grass, grass give energy to soil as a mineral for land life, for instance. If Bison were loss, some of part in ecosystem being incomplete. Environmentalist really took care about this case – the extinction of American Bison – because it is important to tend the balance of environment.
Therefore, the Bison, which still being life, must be preserved in a special place. Bison are found in both publicly and privately conservation places. For example, Custer State Park in South Dakota, one of the largest publicly conservation place in the world, Yellowstone National Park, Henry Mountains in Utah, Wind Cave National Park in South Dakota, and on Elk Island in Alberta, Canada. Finally, if we want to balance the environment we have to preserve Bison in a good place and treat them in a good way.

Rabu, 19 Agustus 2009

ADA CINTA DI PINTAU, ANYAU E…


Dusun Pintau, Desa Tanjung Satai, Kecamatan Pulau Maya Karimata merupakan salah satu Dusun yang terletak di daerah pesisir pantai. Konon dari cerita warga masyarakat, nama Pintau dipilih karena diambil dari suara burung yang pertama kali di dengar oleh pendatang yang pertama kali menginjakkan kaki di daerah ini. Cin…cau…begitu bunyi suara burung itu. Cerita ini saya dapatkan dari Pak Muchsin, beliau merupakan salah satu ‘tetua’ di Dusun Pintau ini.
Dusun Pintau terletak di Desa Tanjung Satai Kecamatan Pulau Maya Karimata Kabupaten Kayong Utara. Luas wilayah Desa Tanjung Satai 150, 66 Km yang berbatasan dengan Desa Dusun Besar di sebelah utara dan berbatasan dengan Laut Cina Selatan di sebelah Selatan, Barat dan Timur. Di Kecamatan inilah kita bisa mengunjungi Pulau Karimata yang memiliki panorama alam yang indah. Namun, pada musim seperti ini – angin kencang dan gelombang besar – membuat masyarakat tidak berani untuk pergi ke daerah pulau yang menyeberangi lautan itu.
Dusun Pintau merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan laut dan sungai. Oleh karena itu, sebagian besar mata pencaharian masyarakat di Dusun Pintau ini adalah nelayan. Mereka melaut setiap hari apabila cuaca teduh. Mereka menyebutnya Musim Barat. Di daerah ini terkenal dua musim untuk membedakan kondisi alam, Musim Selatan dan Musim Barat. Musim Selatan merupakan musim kemarau, dimana jarang sekali turun hujan di daerah ini, angin laut kencang dan gelombang yang besar. Pada musim ini, masyarakat jarang sekali pergi ke laut kecuali saat cuaca sudah teduh. Kemudian ada yang namanya Musim Barat. Pada musim ini bisa juga disebut musim penghujan. Bila hujan telah tiba maka kondisi laut akan teduh, angin menjadi tenang dan laut juga tidak bergelombang.
Sedikit cerita tentang dua musim yang unik ini. Musim Selatan terjadi pada sekitar bulan Mei hingga September. Pada musim ini, masyarakat Dusun Pintau memiliki banyak permasalahan yang melanda. Hujan jarang turun sehingga laut tidak teduh dan masyarakat jarang melaut. Hal tersebut mengakibatkan kehidupan perekonomian untuk tabungan dan kebutuhan sehari-hari agak sulit. Ikan-ikan yang didapat pada musim ini hanyalah cukup untuk makan satu keluarga sehari-hari. Seperti Ikan Puput, Bulu Ayam, Malong, Hiu, Sembilang, Blukang, dan lain sebagainya. Dan itupun dalam ukuran yang kecil. Ikan-ikan tersebut biasanya hanya dijual untuk masyarakat setempat saja.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari pada musim ini, mereka biasanya membuat ikan asin dari sebagian ikan yang telah mereka dapatkan. Selain itu, apabila cuaca di laut sama sekali tidak teduh, masyarakat di Dusun Pintau biasanya pergi ke ladang atau sungai untuk memancing. Terkadang apabila beruntung, mereka akan mendapatkan ikan dengan ukuran yang besar. Ikan yang dipancing di sungai biasanya seperti Ikan Ruan (Ikan Gabus) dan Ikan Kepuyu (Ikan Betok). Selain ikan, biasanya juga mereka mencari udang di sungai yang ada di depan rumah mereka. Masalahnya, air sungai yang mengalir di depan rumah penduduk tak selamanya tawar, pada musim selatan biasanya air di sungai itu asin karena air laut masuk ke sungai.
Selain memancing, biasanya penduduk di Dusun Pintau mencari Kepah (sejenis kerang), Siput, dan Ketam (sejenis Kepiting dalam ukuran kecil) untuk makan sehari-hari. Di Dusun Pintau sangat susah bagi kita menemukan sayuran hijau hingga mereka jarang sekali makan sayuran sebagai penyeimbang gizi. Jenis sayuran yang biasa mereka makan seperti Pakis, Cangkok Manis (Daun Katuk), Kangkung, dan Umbut Kelapa. Pasokan sayuran lebih banyak datang dari Desa tetangga yang ada di Kecamatan Pulau Maya Karimata. Maka, selain memancing biasanya penduduk mencari sayuran-sayuran itu yang memang mudah didapatkan di daerah persawahan.
Pada musim selatan ini, masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di daratan daripada di lautan. Karenanya, selain menjadi Nelayan, beberapa masyarakat juga bekerja sebagai Petani dan Peternak. Di Dusun Pintau hanya sekali dalam setahun mereka memanen padi. Hal ini dikarenakan kondisi alam yang membuat produksi padi mereka terhambat. Untuk tahun 2009 ini, produksi panen mereka terhitung gagal. Menurut sebagian penduduk, kegagalan panen tahun ini dikarenakan banjir yang melanda daerah ini pada akhir tahun 2008 lalu. Oleh karena itu, padi yang mereka dapatkan tahun ini hanya cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
Disamping menjadi petani, ada sebagian masyarakat yang juga beternak hewan seperti Kambing, Ayam, Bebek, Sapi dan Walet. Ternak yang dimiliki masyarakat Dusun Pintau lumayan banyak. Terutama Kambing, Ayam dan Bebek. Hampir di beberapa rumah penduduk memiliki ternak tersebut. Mereka juga memiliki cara yang unik untuk memelihara ternak mereka. Mereka membiarkan ternak mereka berkeliaran di luar rumah tanpa dimasukkan ke dalam kandang. Hewan ternak tersebut dibiarkan mencari makanan sendiri, Kambing misalnya. Sedangkan Ayam dan Bebek tetap diberi makanan oleh pemilik ternak-ternak itu. Mereka bisa menjual hewan ternak mereka pada penduduk setempat, rumah makan, atau dengan peraih (agen) di pasar.
Pada musim selatan ini, air bersih merupakan salah satu permasalahan yang melanda masyarakat Dusun Pintau. Susahnya memperoleh air bersih di Dusun Pintau karena lokasinya yang berdekatan dengan laut. Air laut yang asin kadang masuk ke dalam parit yang melintasi depan rumah warga. Terkadang air tawar dari sungai juga masuk ke dalam parit tersebut. Hasilnya, ketika air asin dan air tawar bertemu, air di parit depan rumah warga itu menjadi payau. Bahkan tak jarang tak ditemukan air tawar di parit itu karena air laut yang masuk lebih banyak daripada air dari sungai. Oleh karena itu, warga menjadi kesusahan mendapatkan air untuk mandi dan mencuci. Terlebih lagi jika hujan tidak turun selama berbulan-bulan, mereka terpaksa mengambil air di hulu sungai untuk minum dan masak.
Di Dusun Pintau sebenarnya telah terpasang pipa-pipa dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Akan tetapi, sepertinya proses selanjutnya telah terhenti karena tidak ada tindak lanjut lagi dari pihak terkait. Jadi, pipa-pipa itu hanya sebagai pelengkap di jalanan tanpa tahu kapan akan terealisasi. Permasalahan utamanya mungkin karena lokasi Pulau Maya Karimata yang cukup jauh hingga tak terjangkau. Disamping itu, di rumah-rumah warga Dusun Pintau jarang sekali ditemukan tempat penampungan air yang besar seperti tempayan atau tong yang terbuat dari semen. Tempat penampungan air yang mereka miliki hanya berupa bak air besar yang terbuat dari plastik dan tong air yang terbuat dari plastik. Maka dari itu, apabila hujan turun, tampungan air hanya bertahan hingga kurang lebih dua bulan.
Lain halnya dengan Musim Selatan, Musim Barat di Dusun Pintau merupakan musim yang penuh dengan anugerah bagi masyarakat Dusun Pintau. Karena pada musim ini kondisi berbeda mereka rasakan dari Musim Selatan. Penduduk Dusun Pintau menyebutnya ‘banjir ikan’ terutama jenis ikan Gembung dan Tenggiri. Pada musim ini, nelayan yang tadinya ‘pensiun dini’ pada musim selatan kembali beraktivitas. Mereka berlomba mencari ikan yang bertebaran di lautan karena pada musim ini angin dan gelombang hampir tidak dirasakan, kondisi laut selalu teduh dan aman untuk melaut.
Singkat cerita, sangat mudah untuk mendapatkan ikan pada musim ini. Selain ikan, udang, kepiting dan hasil laut lainnya. Sampai-sampai, menurut warga Dusun Pintau ikan-ikan tersebut dibuang-buang lagi ke laut dan diberikan secara cuma-cuma pada penduduk lainnya yang tidak melaut. Namun, pada musim barat ini nyamuk-nyamuk juga banyak berkeliaran di lingkungan sekitar rumah masyarakat. Menurut beberapa warga, memang pada musim ini rentan sekali terjangkit penyakit malaria. Hal itu disebabkan pada musim barat ini hujan sering turun di wilayah ini, akibatnya banyak nyamuk-nyamuk dari hutan yang datang ke pemukiman warga. Tapi, belum ada penyakit serius yang melanda Dusun Pintau selama musim barat ini. Karenanya, saat kami bercerita mengenai ketakutan kami akan penyakit malaria waktu kami ditempatkan di Pulau Maya, masyarakat disana langsung menepis anggapan tersebut. Menurut mereka, daerah yang rentan terkena malaria di daerah pulau-pulau kecil yang terdapat di Pulau Maya seperi Pulau Karimata, Dusun Betok dan lain sebagainya.
Kampung yang terkenal dengan hasil ikannya ini sebenarnya masih memiliki banyak kekurangan. Seperti yang telah disebutkan diatas, tempat penampungan air, cara pengelolaan hasil laut, dan lain sebagainya. Belum lagi tidak adanya koperasi sejenis Koperasi Unit Desa (KUD) dan Koperasi Simpan Pinjam, membuat masyarakat kesulitan dalam mengelola keuangan. Ibaratnya hasil yang didapat habis untuk saat itu saja. Tidak ada pengelolaan yang baik untuk meningkatkan perekonomian keluarga para warga disana.
Dua bulan di Dusun Pintau benar-benar membuatku jatuh cinta. Aku benar-benar terkena cinlok atau yang akrab disebut cinta lokasi. Aku rasa masih kurang kebersamaanku di Dusun Pintau ini selama dua bulan. Panorama alam dan udara yang bersih jarang sekali kudapatkan di Kota Pontianak, tempatku tinggal. Kampung ini benar-benar masih asri, suara jangkrik dan katak menghiasi sunyinya malam. Suara burung-burung di pagi hari menambah semaraknya alam di Dusun Pintau.
Teman-temanku berkata bahwa kami sangat beruntung ditempatkan di Dusun Pintau ini karena masyarakatnya sangat ramah dan pengertian. Makanya muncul lah pernyataan, “Ada cinta di Pintau…Anyau e…”. Anyau adalah kata yang berasal dari bahasa Dusun Pintau yang berarti tanah atau lumpur. Di tempat ini juga kami belajar berbahasa. Aku dapat banyak sekali pengetahuan mengenai bahasa yang digunakan masyarakat sini. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Kayong Utara karena mayoritas penduduk disini bersuku Melayu. Selain itu, ternyata dialek dan kata per kata yang mereka gunakan berbeda dengan mayoritas Melayu Ketapang lainnya. Jadi, antar desa, kecamatan dan dusun memiliki logat dan bahasa yang berbeda.
Ada beberapa kata yang berbeda antar warga yang berasal dari daerah yang berbeda pula. Misalnya, untuk menyatakan persetujuan, biasanya menggunakan aok am atau aok te, begitu: gian e, gitu ke, gian te. Dan masih banyak lagi variasi kata dan bahasa yang aku dengar. Kecepatan berbahasa juga kadang membuat aku dan teman-temanku bingung dengan apa yang masyarakat katakan. Sampai-sampai temanku berkata “Maaf Pak, Bu, bisa dipelankan sedikit ndak? Kamek tak paham kalo ngomongnye kecepatan…” hingga kadang kami ditertawakan oleh mereka. Mungkin mereka beranggapan kami – notabene mahasiswa yang berpendidikan tinggi – mengerti dengan bahasa yang mereka gunakan karena sama-sama berbahasa Melayu. Tapi ternyata Melayu yang berbeda yang dipakai disini.
Dua bulan yang takkan pernah kulupakan. Banyak pelajaran yang bisa kuambil dari pengalaman ini. Panorama yang indah, kultur masyarakat yang unik, bahasa yang bervariasi, tradisi yang beragam, dan lain sebagainya membuatku tidak akan melupakan kisah ini. Ini adalah lembaran baru dalam buku kisah hidupku di dunia. Dusun Pintau yang penuh cerita.

Sabtu, 02 Mei 2009

Ketika Ilmu Pengetahuan dan Agama Bertarung


*Kisah singkat dari Novel Best Seller, Angels and Demons, karya Dan Brown

Dan Brown merupakan salah satu penulis novel yang jenius. Tema-tema yang diusung dalam novelnya selalu menjadi best seller dan mengundang perhatian publik, The Da Vinci Code misalnya. Salah satu novel best seller-nya, Malaikat dan Iblis atau dalam judul aslinya, Angels and Demons. Malaikat dan Iblis diawali dengan faks yang diterima oleh Robert Langdon, seorang Dosen Simbologi di Harvard University, Amerika Serikat. Faks yang diterima Langdon berasal dari sebuah institusi penelitian yang bernama CERN yang berpusat di Jenewa, Swiss. Faks tersebut menggambarkan seorang lelaki yang dibunuh dengan sebuah stempel yang berasal dari sebuah kelompok yang bisa dibilang telah punah, Illuminati.
Illuminati merupakan kelompok persaudaraan kuno yang mengagungkan ilmu pengetahuan. Kelompok ini juga sempat berseteru dengan kalangan agamawan yang berasal dari Gereja Katolik, Roma. Terutama saat Galileo menemukan teori Heliosentris dan mematahkan teroi Geosentris yang dicetuskan oleh kalangan Gereja Katolik. Karena pada waktu itu kekuasaan gereja sangat kuat, maka Galileo ditangkap dan dihukum karena teorinya itu. Melihat itu, kalangan ilmuwan marah. Mereka membenci tindakan yang dilakukan pihak gereja kepada Galileo yang mereka anggap menghina Ilmu Pengetahuan. Pada zaman itu juga, beberapa orang dari kelompok Illuminati yang menentang Gereja Katolik secara terbuka dibunuh dan mayat-mayat mereka disebar di jalanan. Peristiwa itu membuat kaum Illuminati menarik diri dan mencoba untuk meneruskan kegiatan Persaudaraan mereka sembunyi-sembunyi.
Dan sekarang, kaum itu muncul kembali setelah berabad-abad menghilang. Fakta tersebut mengguncang ahli Simbologi, Robert Langdon, yang langsung pergi ke markas CERN di Swiss. CERN dipimpin oleh seorang pria lumpuh yang bernama Maximilian Kohler yang sangat jenius. Lelaki yang terbunuh dan ditandai dengan stempel illuminati itu adalah sahabat Kohler, Leonardo Vetra. Seorang Ilmuwan yang juga sangat mencintai agama. Ilmuwan yang sangat jenius di institusi penelitian tersebut. Pastor sekaligus ilmuwan.
Di markas besar CERN itu Langdon melihat mayat Vetra yang sengaja belum dipindahkan dari tempatnya. Langdon bergeming melihat mayat itu, sebelah matanya dicungkil. Di tempat itu juga Langdon bertemu dengan anak angkat Leonardo Vetra, Vittoria Vetra. Vittoria sangat menyayangi ayahnya dan terpukul saat mengetahui ayahnya dibunuh. Saat itu juga, Kohler mengajak Robert Langdon dan Vittoria Vetra ke laboratorium tempat Leonardo Vetra bekerja. Kohler curiga ada sesuatu yang dicuri di laboratorium Vetra berkenaan dengan pembunuhan Leonardo Vetra.
Ternyata selama melakukan pekerjaan di laboratorium bawah tanah itu, kedua anak beranak Vetra menciptakan sesuatu zat yang sangat berbahaya sekaligus sangat berguna di muka bumi ini, yaitu antimateri. Zat tersebut bisa meratakan kota dengan tanah. Dan akses untuk memasuki ruangan tersebut diperlukan mata Leonardo dan Vittoria sebagai kuncinya. Dari situ terbukalah misteri dicungkilnya mata Leonardo Vetra.
Setelah itu, Kohler mendapatkan pesan dari seseorang yang menyuruh Robert Langdon dan Vittoria Vetra terbang ke Vatikan City, Roma. Tanpa sempat berpikir dan berkemas, Robert dan Vittoria bergegas pergi ke Vatikan dengan pesawat yang sudah disiapkan. Sesampainya di Vatikan, mereka bertemu dengan pengawal Vatikan City yang bernama Garda Swiss. Saat itu tengah diadakan pemilihan Paus baru menggantikan Paus lama yang tiba-tiba meninggal karena stroke.
Banyak peristiwa yang terjadi di Vatikan City berhubungan dengan antimateri yang dicuri dan pembunuhan Leonardo Vetra. Kesemua itu berhubungan dengan kelompok persaudaraan Illuminati. Kelompok persaudaraan itu mengancam akan mengacaukan pemilihan Paus yang baru dengan meledakkan antimateri di Vatikan City pada malam itu juga. Kelompok Illuminati ingin membalas dendam kepada Gereja Katolik yang dulu pernah membunuh anggota Illuminati di depan umum. Pada saat pemilihan Paus inilah sejarah tersebut akan berulang, Illuminati akan membunuh calon Paus atau kardinal di depan publik dengan cara yang tak terduga. Robert Langdon dan Vittoria Vetra harus berhadapan dengan sesuatu yang tak terduga. Mereka harus memecahkan misteri sebelum para kardinal itu dibunuh satu per satu.
Robert dan Vittoria mencari sandi yang diberikan oleh kelompok Illuminati yang menelepon ke kantor kardinal. Mereka memeriksa arsip kelompok Illuminati yang disita kalangan Gereja Katolik Roma. Akhirnya mereka menemukan kunci di buku karangan Galileo Galilei di salah satu arsip tersebut. Mereka menemukan 4 cara pembunuhan yang akan dilakukan kaum Illuminati yang berkaitan dengan simbol yang mereka agungkan di buku karangan Galileo tersebut, yaitu tanah, air, api dan udara. Dan memang benar, keempat kardinal itu dibunuh dengan cara yang berbeda-beda: dibakar, disumpal dengan tanah, paru-paru ditusuk dengan pisau dan ditenggelamkan di dalam air.
Dari kesemua misteri itu, Vittoria sempat disandera oleh pembunuh yang bernama Hassassin itu hingga akhirnya diselamatkan oleh Robert Langdon. Dari tempat Vittoria disandera – yang merupakan markas besar Illuminati – Robert Langdon mengetahui bahwa dalang dari semua ini berasal dari kalangan gereja. Karena dari tempat itu ternyata memiliki jalan pintas ke gereja utama. Pada akhirnya, Robert Langdon dan Vittoria Vetra dikejutkan dengan kedatangan Kohler ke Gereja untuk menemui Penasihat Paus, Sang Camerlengo Ventresca.
Dari pertemuan mereka berdua, tersibaklah semua tabir yang menyelubungi peristiwa yang terjadi dalam semalam itu. Ternyata yang memerintahkan Hassassin membunuh para cardinal dan Leonardo Vetra adalah Ventresca. Karena dia tidak setuju dengan keputusan Paus untuk mempersatukan Ilmu Pengetahuan dan Gereja. Ventresca jugalah yang membunuh Paus dengan racunnya, bukan karena sakit stroke. Semua misteri ini berujung pada Ventresca yang ternyata anak kandung dari Paus yang dibunuh hasil perkawinan tabung karena Paus sangat mencintai agamanya. Dengan kejadian itu, Paus sangat berterima kasih dengan ilmu pengetahuan. Akan tetapi karena kesalahpahaman, terjadilah semua kejadian ini bahkan antimateri yang berbahaya itu disembunyikan oleh Ventresca juga. Akhirnya, antimateri dibawa oleh Ventresca dan Langdon dengan helikopter dan diledakkan di atas Vatikan City.