Sabtu, 10 Oktober 2009

The Extinction of American Bison


Nowadays, many animals become more extinct along with humans appearance; some people are considering this case related with humans behavior identically greedy for money and power. One of animals which almost extinct are American Bison in The United States. Many years ago, when amount of Bison was large, American Bison was peacefully life near humans, especially Native Americans. Bison were providing them with food, shelter, clothing, and spiritual inspiration. However, bison were begun to extinct after Europeans come to America; they slaughtered bison for clothing, sports, robe, tongue, etc. The extinction of Bison was affecting to Native American and environment.
Furthermore, Native American was living with Bison for thousand years ago, so without Bison they would be forced to leave or starve. Their relationship was very strong at that time, each of them was supply something for their life. For example, Native American plant grass as a food for Bison; likewise, Bison also provide many things for Native American like clothing and food. So, Bison was playing an important role in this life especially in Native American’s life. As a result, they really took care about Bison’s life even make a conservation place, where Bison can reproduce themselves to preserve their generations.
The other effect of Bison’s extinction is the balance of ecosystem or as known as environment. All of these things in the world need something to complete the life cycle. Wolves eat Bison, Bison eat grass, grass give energy to soil as a mineral for land life, for instance. If Bison were loss, some of part in ecosystem being incomplete. Environmentalist really took care about this case – the extinction of American Bison – because it is important to tend the balance of environment.
Therefore, the Bison, which still being life, must be preserved in a special place. Bison are found in both publicly and privately conservation places. For example, Custer State Park in South Dakota, one of the largest publicly conservation place in the world, Yellowstone National Park, Henry Mountains in Utah, Wind Cave National Park in South Dakota, and on Elk Island in Alberta, Canada. Finally, if we want to balance the environment we have to preserve Bison in a good place and treat them in a good way.

Rabu, 19 Agustus 2009

ADA CINTA DI PINTAU, ANYAU E…


Dusun Pintau, Desa Tanjung Satai, Kecamatan Pulau Maya Karimata merupakan salah satu Dusun yang terletak di daerah pesisir pantai. Konon dari cerita warga masyarakat, nama Pintau dipilih karena diambil dari suara burung yang pertama kali di dengar oleh pendatang yang pertama kali menginjakkan kaki di daerah ini. Cin…cau…begitu bunyi suara burung itu. Cerita ini saya dapatkan dari Pak Muchsin, beliau merupakan salah satu ‘tetua’ di Dusun Pintau ini.
Dusun Pintau terletak di Desa Tanjung Satai Kecamatan Pulau Maya Karimata Kabupaten Kayong Utara. Luas wilayah Desa Tanjung Satai 150, 66 Km yang berbatasan dengan Desa Dusun Besar di sebelah utara dan berbatasan dengan Laut Cina Selatan di sebelah Selatan, Barat dan Timur. Di Kecamatan inilah kita bisa mengunjungi Pulau Karimata yang memiliki panorama alam yang indah. Namun, pada musim seperti ini – angin kencang dan gelombang besar – membuat masyarakat tidak berani untuk pergi ke daerah pulau yang menyeberangi lautan itu.
Dusun Pintau merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan laut dan sungai. Oleh karena itu, sebagian besar mata pencaharian masyarakat di Dusun Pintau ini adalah nelayan. Mereka melaut setiap hari apabila cuaca teduh. Mereka menyebutnya Musim Barat. Di daerah ini terkenal dua musim untuk membedakan kondisi alam, Musim Selatan dan Musim Barat. Musim Selatan merupakan musim kemarau, dimana jarang sekali turun hujan di daerah ini, angin laut kencang dan gelombang yang besar. Pada musim ini, masyarakat jarang sekali pergi ke laut kecuali saat cuaca sudah teduh. Kemudian ada yang namanya Musim Barat. Pada musim ini bisa juga disebut musim penghujan. Bila hujan telah tiba maka kondisi laut akan teduh, angin menjadi tenang dan laut juga tidak bergelombang.
Sedikit cerita tentang dua musim yang unik ini. Musim Selatan terjadi pada sekitar bulan Mei hingga September. Pada musim ini, masyarakat Dusun Pintau memiliki banyak permasalahan yang melanda. Hujan jarang turun sehingga laut tidak teduh dan masyarakat jarang melaut. Hal tersebut mengakibatkan kehidupan perekonomian untuk tabungan dan kebutuhan sehari-hari agak sulit. Ikan-ikan yang didapat pada musim ini hanyalah cukup untuk makan satu keluarga sehari-hari. Seperti Ikan Puput, Bulu Ayam, Malong, Hiu, Sembilang, Blukang, dan lain sebagainya. Dan itupun dalam ukuran yang kecil. Ikan-ikan tersebut biasanya hanya dijual untuk masyarakat setempat saja.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari pada musim ini, mereka biasanya membuat ikan asin dari sebagian ikan yang telah mereka dapatkan. Selain itu, apabila cuaca di laut sama sekali tidak teduh, masyarakat di Dusun Pintau biasanya pergi ke ladang atau sungai untuk memancing. Terkadang apabila beruntung, mereka akan mendapatkan ikan dengan ukuran yang besar. Ikan yang dipancing di sungai biasanya seperti Ikan Ruan (Ikan Gabus) dan Ikan Kepuyu (Ikan Betok). Selain ikan, biasanya juga mereka mencari udang di sungai yang ada di depan rumah mereka. Masalahnya, air sungai yang mengalir di depan rumah penduduk tak selamanya tawar, pada musim selatan biasanya air di sungai itu asin karena air laut masuk ke sungai.
Selain memancing, biasanya penduduk di Dusun Pintau mencari Kepah (sejenis kerang), Siput, dan Ketam (sejenis Kepiting dalam ukuran kecil) untuk makan sehari-hari. Di Dusun Pintau sangat susah bagi kita menemukan sayuran hijau hingga mereka jarang sekali makan sayuran sebagai penyeimbang gizi. Jenis sayuran yang biasa mereka makan seperti Pakis, Cangkok Manis (Daun Katuk), Kangkung, dan Umbut Kelapa. Pasokan sayuran lebih banyak datang dari Desa tetangga yang ada di Kecamatan Pulau Maya Karimata. Maka, selain memancing biasanya penduduk mencari sayuran-sayuran itu yang memang mudah didapatkan di daerah persawahan.
Pada musim selatan ini, masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di daratan daripada di lautan. Karenanya, selain menjadi Nelayan, beberapa masyarakat juga bekerja sebagai Petani dan Peternak. Di Dusun Pintau hanya sekali dalam setahun mereka memanen padi. Hal ini dikarenakan kondisi alam yang membuat produksi padi mereka terhambat. Untuk tahun 2009 ini, produksi panen mereka terhitung gagal. Menurut sebagian penduduk, kegagalan panen tahun ini dikarenakan banjir yang melanda daerah ini pada akhir tahun 2008 lalu. Oleh karena itu, padi yang mereka dapatkan tahun ini hanya cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
Disamping menjadi petani, ada sebagian masyarakat yang juga beternak hewan seperti Kambing, Ayam, Bebek, Sapi dan Walet. Ternak yang dimiliki masyarakat Dusun Pintau lumayan banyak. Terutama Kambing, Ayam dan Bebek. Hampir di beberapa rumah penduduk memiliki ternak tersebut. Mereka juga memiliki cara yang unik untuk memelihara ternak mereka. Mereka membiarkan ternak mereka berkeliaran di luar rumah tanpa dimasukkan ke dalam kandang. Hewan ternak tersebut dibiarkan mencari makanan sendiri, Kambing misalnya. Sedangkan Ayam dan Bebek tetap diberi makanan oleh pemilik ternak-ternak itu. Mereka bisa menjual hewan ternak mereka pada penduduk setempat, rumah makan, atau dengan peraih (agen) di pasar.
Pada musim selatan ini, air bersih merupakan salah satu permasalahan yang melanda masyarakat Dusun Pintau. Susahnya memperoleh air bersih di Dusun Pintau karena lokasinya yang berdekatan dengan laut. Air laut yang asin kadang masuk ke dalam parit yang melintasi depan rumah warga. Terkadang air tawar dari sungai juga masuk ke dalam parit tersebut. Hasilnya, ketika air asin dan air tawar bertemu, air di parit depan rumah warga itu menjadi payau. Bahkan tak jarang tak ditemukan air tawar di parit itu karena air laut yang masuk lebih banyak daripada air dari sungai. Oleh karena itu, warga menjadi kesusahan mendapatkan air untuk mandi dan mencuci. Terlebih lagi jika hujan tidak turun selama berbulan-bulan, mereka terpaksa mengambil air di hulu sungai untuk minum dan masak.
Di Dusun Pintau sebenarnya telah terpasang pipa-pipa dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Akan tetapi, sepertinya proses selanjutnya telah terhenti karena tidak ada tindak lanjut lagi dari pihak terkait. Jadi, pipa-pipa itu hanya sebagai pelengkap di jalanan tanpa tahu kapan akan terealisasi. Permasalahan utamanya mungkin karena lokasi Pulau Maya Karimata yang cukup jauh hingga tak terjangkau. Disamping itu, di rumah-rumah warga Dusun Pintau jarang sekali ditemukan tempat penampungan air yang besar seperti tempayan atau tong yang terbuat dari semen. Tempat penampungan air yang mereka miliki hanya berupa bak air besar yang terbuat dari plastik dan tong air yang terbuat dari plastik. Maka dari itu, apabila hujan turun, tampungan air hanya bertahan hingga kurang lebih dua bulan.
Lain halnya dengan Musim Selatan, Musim Barat di Dusun Pintau merupakan musim yang penuh dengan anugerah bagi masyarakat Dusun Pintau. Karena pada musim ini kondisi berbeda mereka rasakan dari Musim Selatan. Penduduk Dusun Pintau menyebutnya ‘banjir ikan’ terutama jenis ikan Gembung dan Tenggiri. Pada musim ini, nelayan yang tadinya ‘pensiun dini’ pada musim selatan kembali beraktivitas. Mereka berlomba mencari ikan yang bertebaran di lautan karena pada musim ini angin dan gelombang hampir tidak dirasakan, kondisi laut selalu teduh dan aman untuk melaut.
Singkat cerita, sangat mudah untuk mendapatkan ikan pada musim ini. Selain ikan, udang, kepiting dan hasil laut lainnya. Sampai-sampai, menurut warga Dusun Pintau ikan-ikan tersebut dibuang-buang lagi ke laut dan diberikan secara cuma-cuma pada penduduk lainnya yang tidak melaut. Namun, pada musim barat ini nyamuk-nyamuk juga banyak berkeliaran di lingkungan sekitar rumah masyarakat. Menurut beberapa warga, memang pada musim ini rentan sekali terjangkit penyakit malaria. Hal itu disebabkan pada musim barat ini hujan sering turun di wilayah ini, akibatnya banyak nyamuk-nyamuk dari hutan yang datang ke pemukiman warga. Tapi, belum ada penyakit serius yang melanda Dusun Pintau selama musim barat ini. Karenanya, saat kami bercerita mengenai ketakutan kami akan penyakit malaria waktu kami ditempatkan di Pulau Maya, masyarakat disana langsung menepis anggapan tersebut. Menurut mereka, daerah yang rentan terkena malaria di daerah pulau-pulau kecil yang terdapat di Pulau Maya seperi Pulau Karimata, Dusun Betok dan lain sebagainya.
Kampung yang terkenal dengan hasil ikannya ini sebenarnya masih memiliki banyak kekurangan. Seperti yang telah disebutkan diatas, tempat penampungan air, cara pengelolaan hasil laut, dan lain sebagainya. Belum lagi tidak adanya koperasi sejenis Koperasi Unit Desa (KUD) dan Koperasi Simpan Pinjam, membuat masyarakat kesulitan dalam mengelola keuangan. Ibaratnya hasil yang didapat habis untuk saat itu saja. Tidak ada pengelolaan yang baik untuk meningkatkan perekonomian keluarga para warga disana.
Dua bulan di Dusun Pintau benar-benar membuatku jatuh cinta. Aku benar-benar terkena cinlok atau yang akrab disebut cinta lokasi. Aku rasa masih kurang kebersamaanku di Dusun Pintau ini selama dua bulan. Panorama alam dan udara yang bersih jarang sekali kudapatkan di Kota Pontianak, tempatku tinggal. Kampung ini benar-benar masih asri, suara jangkrik dan katak menghiasi sunyinya malam. Suara burung-burung di pagi hari menambah semaraknya alam di Dusun Pintau.
Teman-temanku berkata bahwa kami sangat beruntung ditempatkan di Dusun Pintau ini karena masyarakatnya sangat ramah dan pengertian. Makanya muncul lah pernyataan, “Ada cinta di Pintau…Anyau e…”. Anyau adalah kata yang berasal dari bahasa Dusun Pintau yang berarti tanah atau lumpur. Di tempat ini juga kami belajar berbahasa. Aku dapat banyak sekali pengetahuan mengenai bahasa yang digunakan masyarakat sini. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Kayong Utara karena mayoritas penduduk disini bersuku Melayu. Selain itu, ternyata dialek dan kata per kata yang mereka gunakan berbeda dengan mayoritas Melayu Ketapang lainnya. Jadi, antar desa, kecamatan dan dusun memiliki logat dan bahasa yang berbeda.
Ada beberapa kata yang berbeda antar warga yang berasal dari daerah yang berbeda pula. Misalnya, untuk menyatakan persetujuan, biasanya menggunakan aok am atau aok te, begitu: gian e, gitu ke, gian te. Dan masih banyak lagi variasi kata dan bahasa yang aku dengar. Kecepatan berbahasa juga kadang membuat aku dan teman-temanku bingung dengan apa yang masyarakat katakan. Sampai-sampai temanku berkata “Maaf Pak, Bu, bisa dipelankan sedikit ndak? Kamek tak paham kalo ngomongnye kecepatan…” hingga kadang kami ditertawakan oleh mereka. Mungkin mereka beranggapan kami – notabene mahasiswa yang berpendidikan tinggi – mengerti dengan bahasa yang mereka gunakan karena sama-sama berbahasa Melayu. Tapi ternyata Melayu yang berbeda yang dipakai disini.
Dua bulan yang takkan pernah kulupakan. Banyak pelajaran yang bisa kuambil dari pengalaman ini. Panorama yang indah, kultur masyarakat yang unik, bahasa yang bervariasi, tradisi yang beragam, dan lain sebagainya membuatku tidak akan melupakan kisah ini. Ini adalah lembaran baru dalam buku kisah hidupku di dunia. Dusun Pintau yang penuh cerita.

Sabtu, 02 Mei 2009

Ketika Ilmu Pengetahuan dan Agama Bertarung


*Kisah singkat dari Novel Best Seller, Angels and Demons, karya Dan Brown

Dan Brown merupakan salah satu penulis novel yang jenius. Tema-tema yang diusung dalam novelnya selalu menjadi best seller dan mengundang perhatian publik, The Da Vinci Code misalnya. Salah satu novel best seller-nya, Malaikat dan Iblis atau dalam judul aslinya, Angels and Demons. Malaikat dan Iblis diawali dengan faks yang diterima oleh Robert Langdon, seorang Dosen Simbologi di Harvard University, Amerika Serikat. Faks yang diterima Langdon berasal dari sebuah institusi penelitian yang bernama CERN yang berpusat di Jenewa, Swiss. Faks tersebut menggambarkan seorang lelaki yang dibunuh dengan sebuah stempel yang berasal dari sebuah kelompok yang bisa dibilang telah punah, Illuminati.
Illuminati merupakan kelompok persaudaraan kuno yang mengagungkan ilmu pengetahuan. Kelompok ini juga sempat berseteru dengan kalangan agamawan yang berasal dari Gereja Katolik, Roma. Terutama saat Galileo menemukan teori Heliosentris dan mematahkan teroi Geosentris yang dicetuskan oleh kalangan Gereja Katolik. Karena pada waktu itu kekuasaan gereja sangat kuat, maka Galileo ditangkap dan dihukum karena teorinya itu. Melihat itu, kalangan ilmuwan marah. Mereka membenci tindakan yang dilakukan pihak gereja kepada Galileo yang mereka anggap menghina Ilmu Pengetahuan. Pada zaman itu juga, beberapa orang dari kelompok Illuminati yang menentang Gereja Katolik secara terbuka dibunuh dan mayat-mayat mereka disebar di jalanan. Peristiwa itu membuat kaum Illuminati menarik diri dan mencoba untuk meneruskan kegiatan Persaudaraan mereka sembunyi-sembunyi.
Dan sekarang, kaum itu muncul kembali setelah berabad-abad menghilang. Fakta tersebut mengguncang ahli Simbologi, Robert Langdon, yang langsung pergi ke markas CERN di Swiss. CERN dipimpin oleh seorang pria lumpuh yang bernama Maximilian Kohler yang sangat jenius. Lelaki yang terbunuh dan ditandai dengan stempel illuminati itu adalah sahabat Kohler, Leonardo Vetra. Seorang Ilmuwan yang juga sangat mencintai agama. Ilmuwan yang sangat jenius di institusi penelitian tersebut. Pastor sekaligus ilmuwan.
Di markas besar CERN itu Langdon melihat mayat Vetra yang sengaja belum dipindahkan dari tempatnya. Langdon bergeming melihat mayat itu, sebelah matanya dicungkil. Di tempat itu juga Langdon bertemu dengan anak angkat Leonardo Vetra, Vittoria Vetra. Vittoria sangat menyayangi ayahnya dan terpukul saat mengetahui ayahnya dibunuh. Saat itu juga, Kohler mengajak Robert Langdon dan Vittoria Vetra ke laboratorium tempat Leonardo Vetra bekerja. Kohler curiga ada sesuatu yang dicuri di laboratorium Vetra berkenaan dengan pembunuhan Leonardo Vetra.
Ternyata selama melakukan pekerjaan di laboratorium bawah tanah itu, kedua anak beranak Vetra menciptakan sesuatu zat yang sangat berbahaya sekaligus sangat berguna di muka bumi ini, yaitu antimateri. Zat tersebut bisa meratakan kota dengan tanah. Dan akses untuk memasuki ruangan tersebut diperlukan mata Leonardo dan Vittoria sebagai kuncinya. Dari situ terbukalah misteri dicungkilnya mata Leonardo Vetra.
Setelah itu, Kohler mendapatkan pesan dari seseorang yang menyuruh Robert Langdon dan Vittoria Vetra terbang ke Vatikan City, Roma. Tanpa sempat berpikir dan berkemas, Robert dan Vittoria bergegas pergi ke Vatikan dengan pesawat yang sudah disiapkan. Sesampainya di Vatikan, mereka bertemu dengan pengawal Vatikan City yang bernama Garda Swiss. Saat itu tengah diadakan pemilihan Paus baru menggantikan Paus lama yang tiba-tiba meninggal karena stroke.
Banyak peristiwa yang terjadi di Vatikan City berhubungan dengan antimateri yang dicuri dan pembunuhan Leonardo Vetra. Kesemua itu berhubungan dengan kelompok persaudaraan Illuminati. Kelompok persaudaraan itu mengancam akan mengacaukan pemilihan Paus yang baru dengan meledakkan antimateri di Vatikan City pada malam itu juga. Kelompok Illuminati ingin membalas dendam kepada Gereja Katolik yang dulu pernah membunuh anggota Illuminati di depan umum. Pada saat pemilihan Paus inilah sejarah tersebut akan berulang, Illuminati akan membunuh calon Paus atau kardinal di depan publik dengan cara yang tak terduga. Robert Langdon dan Vittoria Vetra harus berhadapan dengan sesuatu yang tak terduga. Mereka harus memecahkan misteri sebelum para kardinal itu dibunuh satu per satu.
Robert dan Vittoria mencari sandi yang diberikan oleh kelompok Illuminati yang menelepon ke kantor kardinal. Mereka memeriksa arsip kelompok Illuminati yang disita kalangan Gereja Katolik Roma. Akhirnya mereka menemukan kunci di buku karangan Galileo Galilei di salah satu arsip tersebut. Mereka menemukan 4 cara pembunuhan yang akan dilakukan kaum Illuminati yang berkaitan dengan simbol yang mereka agungkan di buku karangan Galileo tersebut, yaitu tanah, air, api dan udara. Dan memang benar, keempat kardinal itu dibunuh dengan cara yang berbeda-beda: dibakar, disumpal dengan tanah, paru-paru ditusuk dengan pisau dan ditenggelamkan di dalam air.
Dari kesemua misteri itu, Vittoria sempat disandera oleh pembunuh yang bernama Hassassin itu hingga akhirnya diselamatkan oleh Robert Langdon. Dari tempat Vittoria disandera – yang merupakan markas besar Illuminati – Robert Langdon mengetahui bahwa dalang dari semua ini berasal dari kalangan gereja. Karena dari tempat itu ternyata memiliki jalan pintas ke gereja utama. Pada akhirnya, Robert Langdon dan Vittoria Vetra dikejutkan dengan kedatangan Kohler ke Gereja untuk menemui Penasihat Paus, Sang Camerlengo Ventresca.
Dari pertemuan mereka berdua, tersibaklah semua tabir yang menyelubungi peristiwa yang terjadi dalam semalam itu. Ternyata yang memerintahkan Hassassin membunuh para cardinal dan Leonardo Vetra adalah Ventresca. Karena dia tidak setuju dengan keputusan Paus untuk mempersatukan Ilmu Pengetahuan dan Gereja. Ventresca jugalah yang membunuh Paus dengan racunnya, bukan karena sakit stroke. Semua misteri ini berujung pada Ventresca yang ternyata anak kandung dari Paus yang dibunuh hasil perkawinan tabung karena Paus sangat mencintai agamanya. Dengan kejadian itu, Paus sangat berterima kasih dengan ilmu pengetahuan. Akan tetapi karena kesalahpahaman, terjadilah semua kejadian ini bahkan antimateri yang berbahaya itu disembunyikan oleh Ventresca juga. Akhirnya, antimateri dibawa oleh Ventresca dan Langdon dengan helikopter dan diledakkan di atas Vatikan City.

Jumat, 24 April 2009

Diskursus Tahap Pertama CAIREU Berakhir


Diskursus tahap pertama yang diadakan Center for Acceleration of Inter-Religious and Ethnic Understanding (CAIREU) STAIN Pontianak berakhir hari ini, Kamis (23/04). Diskursus seputar teori konflik dan penanganannya yang disampaikan Direktur CAIREU, Eka Hendri ini dihadiri beberapa aktivis mahasiswa, seperti Lembaga Perlindungan Anak (LPA) dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI).

Menurut Ketua Presidium PMKRI Santo Thomas More Pontianak, Hendrikus Adam, kegiatan ini sangat bermanfaat terutama bagi orang-orang atau lembaga yang memang concern di bidang perdamaian.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena urusan konflik dan perdamaian adalah urusan kita semua. Pada diskursus ini saya mendapat ilmu baru mengenai teori-teori konflik dan bagaimana penyelesaiannya”, ujar Adam.

Dalam diskusi kali ini, Eka memaparkan tentang cara terbaik menyelesaikan konflik. Menurutnya, konflik hanya bisa diselesaikan oleh pihak yang terlibat konflik itu sendiri. Solusi-solusi yang ditawarkan berupa negosiasi dan mediasi dengan melibatkan pihak ketiga yang dipercaya oleh kedua pihak yang bertikai dan benar-benar tidak memihak kepada salah satu pihak yang memiliki permasalahan.

“Untuk menyelesaikan konflik diperlukan kerjasama kedua belah pihak yang berkonflik. Pihak ketiga sebagai mediator atau negosiator juga harus berasal dari pihak yang netral, tidak ‘berat’ pada salah satu pihak dan tentunya telah terlatih sebagai mediator yang sudah dipercaya oleh kedua belah pihak”, kata Eka.

Eka mengharapkan, pada diskursus tahap kedua nanti, respon masyarakat umum dan aktivis mahasiswa lebih besar karena ilmu-ilmu seputar konflik dan penyelesaiannya merupakan ilmu terapan yang dibutuhkan di masyarakat.

“Pada diskursus kedua nanti, kami lebih menekankan pada praktek penyelesaian konflik karena saya pikir ini adalah ilmu terapan yang kasusnya sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dari hal yang paling kecil dulu lah, seperti permasalahan keluarga, bagaimana mediasi yang kita lakukan antara kedua belah pihak yang bermasalah. Semakin sering berlatih maka semakin kita memahami bagaimana solusi terbaik dari konflik itu sendiri”.

Kamis, 23 April 2009

Atasi Masalah dengan Mediasi


Jalan positif untuk mengatasi setiap permasalahan adalah dengan mediasi. Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Center for Acceleration of Inter-Religious and Understanding (CAIREU) STAIN Pontianak, Eka Hendri, AR saat ditemui di kantornya, Rabu (22/4). Menurutnya, sesuai dengan Peraturan Mahkamah Agung No. 1 tahun 2008 yang mengharuskan setiap kasus perdata yang akan ke pengadilan sebelumnya melalui jalur mediasi.

Hal senada diungkapkan oleh Direktur Walisongo Mediation Center (WMC) IAIN Walisongo Semarang, Prof. DR. Ahmad Gunaryo pada saat kunjungannya ke CAIREU beberapa waktu lalu (15-16 April 2009). Kedatangan Ahmad Gunaryo pada waktu itu membahas mengenai penguatan kapasitas organisasi mediasi, peluncuran situs caireu dan sosialisasi mengenai peraturan mahkamah agung tersebut.

“Kami dari CAIREU sedang berusaha memberikan sosialisasi mengenai peraturan mahkamah agung tersebut. Jadi, setiap kasus perdata harus melalui tahap mediasi terlebih dahulu sebelum ke lembaga peradilan, mediasi itu bisa dilakukan baik perorangan maupun lembaga yang telah mendapatkan sertifikat dari Mahkamah Agung”, ujar Eka.

Menurut Eka, saat ini CAIREU tengah menyiapkan rencana untuk membantu hakim-hakim di Pengadilan Agama seputar peraturan tersebut. Di samping itu juga CAIREU berupaya untuk menjalin kerjasama dengan lembaga peradilan guna mensosialisasikan peraturan itu.

“Saat ini kami tengah mensosialisasikan peraturan tersebut kepada masyarakat, jadi mereka tahu adanya aturan baru seputar kasus perdata ini”, ujarnya.

Sambil melakukan sosialisasi, CAIREU juga intensif melakukan kegiatan-kegiatan seputar mediasi. Baik itu kajian maupun pelatihan seputar perdamaian dan konflik.

“Selain kajian, kami juga intensif melakukan training seputar perdamaian dan konflik. Selain itu, kami mencoba mengembangkan potensi menulis dengan situs yang baru saja diluncurkan. Jadi, untuk mengakses informasi, atau artikel yang ditulis oleh anggota maupun volunteer CAIREU, masyarakat bisa mengakses melalui situs www.caireu-mediasipontianak.com”, kata Eka mengakhiri pembicaraan.

Rabu, 22 April 2009

Wajah Demokrasi Indonesia

Pemilihan umum yang tengah berlangsung di Indonesia merupakan salah satu wujud demokrasi yang diagung-agungkan di republik ini. Katanya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Maka dari itu, proses pemilihan umum yang dilakukan pun berbeda dari yang biasanya. Semuanya atas nama rakyat. Pemilihan umum legislatif kali ini merupakan jalan bagi para calon untuk menerapkan demokrasi dalam artian yang sesungguhnya. Rakyatlah yang berperan penting dalam proses ini. Oleh karena itu, terkadang suara-suara rakyat pun coba ‘dibeli’ oleh mereka yang ingin duduk di kursi panas dewan legislatif. Diimingi dengan beragam janji, rakyat tergugah untuk meramaikan pesta demokrasi kali ini.
Akan tetapi, sepertinya demokrasi di Negara Indonesia tercinta ini belum sepenuhnya murni demokrasi yang sesungguhnya. Buktinya bisa dilihat di beberapa belahan bumi di Indonesia. Pelanggaran terjadi dimana-mana, tuntutan ‘meraung-raung’, demo merajalela, semua terjadi demi terwujudnya demokrasi yang sesungguhnya di bumi pertiwi ini. Semua orang berlomba-lomba mendapatkan simpati masyarakat untuk naik sebagai pejabat di negeri ini. Demi kepentingan siapa? Atau untuk apa?
Pemilihan umum legislatif ini bisa jadi sebagai gambaran awal pemilihan presiden mendatang. Walaupun hasil akhir belum terlihat, kisruh seputar calon presiden dan calon wakil presiden yang akan bertanding di kancah perpolitikan semakin memanas. Masyarakat sudah bisa menilai siapa yang nantinya akan mereka pilih sebagai pemimpin nomor satu di Negara ini. Oleh karena itu, isu-isu miring dan panas pun mulai terlontar dari berbagai pihak yang notabene akan bertarung dalam perebutan kursi panas presiden. Hujatan dan pernyataan yang saling menjatuhkan memenuhi media massa di seantero negeri ini.
Para tim sukses mulai beraksi di lapangan untuk mencari massa. Segala cara dilakukan bahkan dengan ‘membayar’ suara rakyat. Akan tetapi, sepertinya rakyat Indonesia sekarang ini sudah lebih cerdas dalam memilih dan menentukan siapa presiden yang paling cocok untuk mereka. Walau terkadang mereka menerima uang yang diberikan, suara mereka tetap tidak bisa dibeli dengan uang tersebut. ‘Pembeli-pembeli’ suara rakyat itu telah dibodohi. Tanpa mereka sadari, rakyat telah lebih pintar. “Dikasih uang ya diambil, masak dibiarkan, urusan suara belakangan”, begitu pernyataan yang sering terlontar dari mulut masyarakat.
Miris, melihat orang-orang penting di Negara ini beradu pendapat. Tanpa memperhatikan rakyat-rakyat dibawahnya yang mulai muak melihat dan mendengarkan pertengkaran mereka. Tak bisakah mereka mencontoh strategi politik Obama saat menyusun kabinet? Obama mengajak Hillary Clinton, rivalnya pada saat pencalonan bakal calon presiden Amerika Serikat, masuk dalam jajaran kabinetnya. Calon lawan yang menjadi kawan. Di Indonesia malah sebaliknya, apabila tidak naik jadi orang nomor satu maka tidak akan mau ditarik di jajaran pemerintahan dan akan menggunakan segala cara untuk menjatuhkan pemerintahan lawan. Tak pernah jadi kawan.
Tak bisakah para petarung dunia perpolitikan itu berpikir, siapapun yang akan naik nanti semuanya demi kepentingan bangsa Indonesia. Tak perlu jadi orang nomor satu untuk memajukan Indonesia. Apabila memang ingin melihat kesejahteraan rakyat Indonesia, kita harus sama-sama berjuang untuk mewujudkannya. Pemerintah, aparat, pekerja sosial, media bahkan rakyat itu sendiri, bersatu membangun Indonesia. Oleh karena itu, persaingan sehat disertai tindakan dan pikiran yang positif sangat diperlukan dalam ‘pertarungan’ ini. Konflik itu perlu, tapi bagaimana solusi terbaik untuk menyelesaikan setiap konflik dengan positif.

Kamis, 16 April 2009

Sujadi: “Paham aturan itu penting!”

Peraturan dan perundang-undangan sangat diperlukan sebagai kontrol tingkah laku manusia. Di setiap lembaga tentunya memiliki aturan-aturan yang berbeda guna menjalankan setiap aktivitas institusinya. Begitu juga dalam proses Pemilu 2009 ini, undang-undang seputar pemilu ini sudah sangat jelas mengatur proses jalannya pesta demokrasi dewan legislatif di Indonesia. Oleh karena itu, semua pihak yang berkecimpung di dalam proses itu tentunya memahami segala aturan yang tertuang dalam Undang-undang Pemilu 2009. Hal tersebut diutarakan oleh anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pontianak, Sujadi.

“Setiap aspek dalam Pemilu ini mestinya paham akan aturan yang berlaku seputar Pemilu. Baik itu KPU, Panwas, KPPS, PPK, Caleg, dan sebagainya. Karena apabila kita memahami aturan main itu maka kita akan memahami setiap langkah yang kita lakukan”, kata Sujadi.

Pernyataan itu terlontar terkait dengan banyaknya ‘keluhan-keluhan’ yang mampir ke kantor KPU. Terutama seputar pelanggaran-pelanggaran Pemilu.

“Sebenarnya apabila ada pelanggaran kan langsung ke Panwas saja karena mereka lembaga yang berwenang mengatasi pelanggaran pemilu. Akan tetapi, apabila pihak yang merasa dirugikan itu datang ke KPU ya kita terima dengan baik dan kita jawab apapun tuntutan mereka”, ujar Sujadi saat ditemui di kantornya.

Sejauh ini, tuntutan yang sempat mampir ke KPU datang salah satunya dari Aliansi Caleg Pontianak Timur. Mereka menuntut diadakannya Pemilu ulang dengan alasan adanya kampanye di luar waktu kampanye, politik uang dan nama caleg yang tidak terdafatar di surat suara. Mengonfirmasi permasalahan tidak masuknya nama caleg dalam surat suara, Sujadi mengatakan bahwa KPU sebelumnya telah menginformasikan kepada pimpinan partai politik tersebut bahwa caleg tersebut tidak memenuhi syarat.

“Caleg-caleg yang tidak memenuhi syarat karena tidak ada surat keterangan kesehatan, surat keterangan dari polisi dan kelengkapan administrasi lainnya, langsung kita informasikan kepada pimpinan parpolnya bahwa mereka tidak memnuhi syarat dan dihapus namanya dari DCT”.

Disamping itu, sebelum pemilihan umum berlangsung, KPU sempat mengumumkan di media nama-nama Daftar Calon Sementara (DCS) agar masyarakat, Partai, Panwas, dan caleg itu sendiri dapat mencermati apabila ada kekurangan, kesalahan nama, nomor urut atau ada caleg yang tidak memenuhi syarat tapi ternyata masuk dalam daftar. Untuk selanjutnya dilaporkan ke KPU dan segera ditindaklanjuti oleh KPU untuk dimasukkan ke Daftar Calon Tetap (DCT).

“Tujuan kami waktu itu adalah sebagai klarifikasi dan validasi. Jadi, apabila ada laporan-laporan dari berbagai pihak dan didukung dengan bukti maka akan segera diperbaiki setiap kekeliruan yang ada. Kuncinya adalah kejujuran, bila ada salah satu nama yang tidak memenuhi syarat di DCS ya diinformasikan ke KPU, jangan dibiarkan”, kata Sujadi.

(Borneo Tribune, 16 April 2009)